KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

“Istana Jayapura”

Rabu, 11 September 2019 6:21 am

Tukiman Tarunasayoga (JC Tukiman Taruna)
Pengajar Community Development Planning

Salah satu dari sepuluh usulan (permintaan?) tokoh Tanah Papua, 10 September kemarin ialah, perlunya didirikan istana di Jayapura. Pengetahuan umum mencatat bahwa selama ini yang disebut istana (menurut KUBI, istana ialah rumah kediaman raja atau presiden) itu sekurang-kurangnya ada di Tampaksiring (Bali), Yogyakarta (disebut Gedung Agung), Cipanas, Bogor, dan Jakarta. Sejumlah istana yang disebutkan ini (adakah yang belum tersebutkan?) merupakan bangunan kuna, dalam arti gedung/kompleks itu telah dibangun bahkan sejak sebelum kemerdekaan.

Menurut pemberitaan, segera akan menyusul dibangun “Istana Jayapura”  tahun depan ini (2020); dan tentu saja nantinya  “istana Nusantara” di kompleks Ibukota baru di Kalimantan Timur. Apabila dua istana baru ini nantinya terealisasasi pembangunannya, dua-duanya merupakan istana dalam arti bangunan baru yang berbeda dari lima bangunan lama yang telah disebut di atas. Jumlah semuanya akan menjadi tujuh, angka yang secara kultural sangat bermakna.

Mengapa jumlah tujuh sangat bermakna? Ada sejumlah tradisi mengaitkan angka atau jumlah tujuh sebagai “angka penuh” atau kulminasi bahkan sebagai effort dari serangkaian upaya dan kerja keras. Calon pengantin sebelum melaksanakan ijab atau janji pernikahan, terlebih dahulu disucikan dengan air dari tujuh sumber/mata air yang berbeda-beda. Semakin terkenal sumber/mata airnya, semakin  bertuahlah penyucian diri calon pengantin itu. Di tempat lain ada tradisi maaf-memaafkan atau lebih tepatnya mengampuni kesalahan sesama. Sampai berapa kalikah harus mengampuni? Ternyata angka tujuh disebut-sebut sebagai batasan, dan alangkah lebih mulianya kalau tidak hanya tujuh kali, melainkan tujuh kali tujuh kali. Intinya mau disebutkan tidak terbatas. Dan dalam hal mengukur kegagalan atas suatu upaya, ada juga tardisi di suatu tempat yang mengatakan: Jangan merasa gagal kalau usahamu belum berhasil sampai ke hitungan tujuh. Kalau Anda melamar pekerjaan dan belum diterima padahal sudah kelima kalinya, jangan putus asa, lampauilah ketujuh kalinya, siapa tahu Anda memperoleh keberuntungan di sana.

Terkait dengan “istana Jayapura”  memang ada kesan sangat cepat diputuskan, dan karena itu hendaknya segera dilengkapi dengan berbagai langkah bijak untuk menyetop “bola liar” yang biasanya dimainkan. Urgensi utama pentingnya berdiri “istana Jayapura” menurut pendapat saya ada pada simbolisasi kehadiran pimpinan Negara di wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga.

Simbol sangatlah penting dalam hidup ini, apalagi simbol kehadiran pimpinan Negara di suatu wilayah. Artinya, “istana Jayapura” kelak siap setiap saat menjadi tempat kediaman, pun tempat pemerintahan Presiden, sebagaimana kalau Presiden ke Yogyakarta, Gedung Agung siap menjadi tempat tinggal dan tempat kegiatan Presiden sewaktu-waktu. Letak Jayapura yang sangat strategis di tanah Papua, memang strategis juga jika di sana berdiri istana. Kelak, ketika ibukota Negara juga sudah berpindah ke Kaltim, tidak mustahil akan ada rapat kabinet di “Istana Jayapura.”    

-0-

%d blogger menyukai ini: