KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

Aja Padha Gumunan

Yusril  Ihza Mahendra saat berperan dalam Film Laksamana Cheng Ho (Foto Rakyatsulsel.com)

“Saya memutuskan untuk setuju dan menjadi lawyer-nya kedua beliau itu. Pak Erick mengatakan bahwa jadi lawyer Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf ini prodeo alias gratis tanpa bayaran apa-apa. Saya bilang saya setuju saja,” demikian pesan singkat Pengacara Yusril Ihza Mahendra yang disampaikan pada hari Senin 5 Nopember 2018. Orang awam pada mlongo. Bukankah dia berpendapat PERPPU No.: 2 Tahun 2017 yang digunakan untuk membubarkan HTI adalah lebih kejam dibanding Penjajah Belanda, Orde Lama dan Orde Baru? Bukankah baru bulan lalu, 19 Oktober 2018 Yusril mengajukan kasasi ke MA tentang pembubaran HTI? Ya, itu benar. Oleh karenanya ada yang muring-muring. Kader PBB Novel Hasan Bamukmin bilang: “Maka ini pengkhianatan yang luar biasa walaupun seumpama YIM (Yusril Ihza Mahendra) atas nama pribadi sekali pun. Jelas saya dan kader yang lainnya sangat marah dan terpukul.” Ya, tentu bisa dimengerti. Siapa orangnya yang tidak muring-muring, wong ditinggal klepat begitu saja. Tidak hanya Novel, hal yang sama juga dilakukan oleh tokoh PA 212, Eggi Sudjana. Dia bilang: “Kalau dalam segi ideologis, Yusril cacat ideologis.”

Dianggap berkhianat dan cacat ideologis juga dialamni adik Rahwana, Gunawan Wibisana. Dia hampir mati disabet pedang Mentawa gara-gara penolakannya atas penculikan Shinta. Beruntung Kumbakarna intervensi, sehingga adik bungsunya ini sempat melarikan diri. Berbekal alasan-alasan yang dia anggap baik, Gunawan menyeberang kekubu Rama Regawa, yang sedang mempersiapkan diri, nglurug perang ke Alengka. Tentu saja tindakannya ini sangat menyakiti Rahwana. Bagaimana tidak. Begini ceriteranya. Pada waktu itu Dasamuka gugat kekahyangan karena dia diplekotho Dewa Endra. Dia hanya memperoleh Dewi Sukasalya tiruan, sehingga sekali jamah sudah mak sek… mati. Saking marahnya, dengan pasukan segelar sepapan dia menyerbu kahyangan. Tak ada dewata beserta pasukan dorandara yang mampu mengalahkan tiga bersaudara putra-putra pasutri Begawan Wisrawa dengan Dewi Sukesi ini. Setelah kalah dan saking gilane, Rahwana ditawari ganti rugi tiga bidadari boyongan. Dasamuka setuju. Setelah sampai Alengka, Bethari Tari diperisterikannya sendiri. Bethari Aswani diperuntukkan bagi adiknya, Kumbakarna, sedang Bethari Triwati diberikan kepada si bungsu, yang dalam perjanalan hidupnya selalu menentang apa yang menjadi keiinginannya.


Kepergian Gunawan kekoalisi Rama-Sugriwa juga melukai hati Sarpakenaka. Bukankah adik Rama, Laksmana pernah memotong hidungnya gara-gara dia ngodor mau memperkosanya. Niat balas dendam belum kesampaian, eee… malah adiknya mau bersekeutu dengannya. Jan drohon tenan. Patih Prahasta juga uring-uringan. Nasionalisme Gunawan sangat diragukan. Apalagi bila diingat, semua rahasia negeri Alengka, baik kekuatan maupun kelemahannya berada ditangan keponakannya itu. Sehingga ya wajar bila Wibisana dianggap pengkhianat dan punya dosa ideologis.

Kumbokarno (tengah) menyelamatkan si adik Wibisana (kanan) dari amarah sang kakak Rahwana (kiri) (Foto Quora.com)

Kondisi Gunawan Wibisana diatas bisa disepadankan dengan Yusril Ihsa Mahendra atau YIM. Kalau hanya dituduh pengkhianat sehingga pantas dilengserkan dari Ketua Umum PBB atau tindakannya dianggap cacat ideologis, ah… itu mah tidak seberapa. Dengan mengatakan: “Di PBB tak ada istilah Munaslub,” semua argumentrasi Pak Novel segera bisa dipatahkan. Sedang tuduhan Eggi Sudjana bahwa tindakan YIM adalah cacat ideologis karena dikaitkan dengan garis ideologis Masyumi yang jihad fi sabilillah, tentu YIM akan punya jawabannya sendiri. Bukankah pendiri PBB adalah YIM?
Perkara pembelaannya atas HTI, dia berpendapat tak ada yang aneh kalau dia tak sependapat Menkum HAM tentang prosedure pembubaran. Dan memang benar, yang digugat bukan Presiden Jokowi, tetapi Menkum HAM.
Sebenarnya ada masalah mendasar yang melampaui penculikan atas Shinta, yang menyebabkan Gunawan Wibisana menyeberang. Masalah itu adalah sikap tak peduli. Dasamuka terlalu egois sehingga tak pernah mau peduli. Dan itulah yang membuat Gunawan pergi. Hal yang sama dialami oleh YIM berberta PBB-nya. Dia merasa tidak dipedulikan. Mengutip dari Merdeka.com, Selasa, 6 Nopember 2018, Prabowo-Sandi hanya ingin menguntungkan timnya sendiri, dan bukannya menganut sistem ‘take and gift’ atau timbal balik dalam koalisi. YIM mengungkap: “Pak Kaban dan Pak Afriyansah Noor (untuk) bertemu Habib Rizieq ya, dan membahas hal yang sama dan setelah itu mereka menyusun draf aliansi partai-partai dan itu diajukan ke Pak Prabowo, tapi sampai hari ini juga enggak ada respon.”

Kedepan masih akan kita temui hal-hal yang dirasa ganjil, tetapi sebenarnya itu biasa saja. Ketika Bapa KH. Ma’ruf Amin digandeng Pak Jokowi menjadi Cawapresnya, tidak otomatis semua Nahdliyin akan mendukung pasangan Jokow-Ma’ruf Amin. Cucu pendiri NU, Gus Irfan juga tak mendukung pasangan nomor urut 01 tapi 02. Dia bilang: “Kita seperti tidak di Indonesia lagi. Di mana setiap orang saling memaki, saling mengejek, saling bertentangan, dan itu terbuka secara umum.” Menurut dia, seharusnya seorang pemimpin memiliki kemampuan mengatasi pertentangan antar masyarakat. Namun dia khawatir pemerintahan Jokowi-JK tak mampu memahami situasi yang sedang berjalan.

Sebenarnyalah, politik memang memiliki logikanya sendiri. Oleh karena itu AJA PADHA GUMUNAN. MERDEKA.
TANCEP KAYON

SUD
Pengamat Wayang
Semarang – Rabu, 7 Nopember 2018.

One thought on “Aja Padha Gumunan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *