KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

Badan Geologi Luncurkan Atlas Zona Kerentanan Likuefaksi Indonesia

Kamis, 10 Oktober 2019 3:55 am
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar menyerahkan atlas zona kerentanan likuefaksi Indonesia kepada Hidayat Lamakarate selaku Sekretaris Daerah Provinsi Sulawasi Tengah, 9 Oktober 2019. (Foto : Ismail/Humas Pemprov Sulteng)
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar menyerahkan atlas zona kerentanan likuefaksi Indonesia kepada Hidayat Lamakarate selaku Sekretaris Daerah Provinsi Sulawasi Tengah, 9 Oktober 2019. (Foto : Ismail/Humas Pemprov Sulteng)

 PALU, SULAWESI TENGAH — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengenalkan Atlas Zona Kerentanan Likuefaksi Indonesia. Dari 34 Provinsi di Indonesia, hanya lima di antaranya yang tidak memiliki kerentanan likuefaksi.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral secara resmi meluncurkan Atlas Zona Kerentanan Likuefaksi Indonesia bertempat di Palu, Sulawesi Tengah pada Rabu (9/10). Atlas dengan skala 1 : 100.000 itu memberi gambaran daerah-daerah yang memiliki kerentanan terhadap likuefaksi di 34 propinsi di Indonesia.

Sejumlah rujukan menyebutkan likuefaksi adalah fenomena hilangnya kekuatan tanah akibat besarnya massa dan volume lumpur yang keluar pasca gempa. Dalam musibah bencana di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 silam likuefaksi terjadi di kelurahan Petobo seluas 180 hektare dan Balaroa seluas 47,8 hektare di Kota Palu. Fenomena likeufaksi yang terjadi secara tiba-tiba juga ikut menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar kepada wartawan di Palu menerangkan meskipun sebuah daerah dikategorikan rentan, tapi tidak serta merta dapat dipastikan akan terjadi likuefaksi pada saat terjadi gempa bumi, karena juga dipengaruhi aspek keberadaan air yang sifatnya dinamis. Hal ini menjelaskan mengapa likuefaksi di Palu pada 28 September 2018 silam hanya terjadi di Balaroa dan Petobo.

“Saya sampaikan ini hanya kerentanan, bahwa di dalam suatu wilayah kerentanan itu belum tentu100 persen itu –likuefaksi- bisa terjadi. Jadi ada aspek-aspek lain yang sifatnya dinamis. Air itu dinamis, kegempaan itu dinamis” jelas Rudy Suhendar.

Atlas Zona Likuefaksi di Indonesia itu diharapkan dapat memberikan informasi bagi para pemangku kepentingan terkait pengelolaan bencana, penataan ruang, pengembangan wilayah dan kawasan, sehingga dapat menjadi bahan informasi dalam upaya-upaya mitigasi bencana.

“Pemerintah daerah juga sudah mengetahui situasinya secara kerentanan di wilayah ini seperti ini, sehingga atas inisiatif daerah bisa melakukan yang lebih rinci lagi, karena tadi itu masyarakat sekarang kan sudah kritis, dibatas mana yang amannya, dibatas mana yang tidak amannya.”

Menurut Rudy, Badan Geologi dapat membantu daerah bila ingin mendetailkan atlas zona likuefaksi itu dalam skala perbandingan yang lebih tinggi.

Sekretaris Provinsi Sulawesi Hidayat Lamakarate mengatakan Atlas Zona Likuefaksi di Indonesia itu akan menjadi masukan berarti bagi revisi tata ruang Provinsi Sulawesi Tengah yang bersifat mitigasi bencana yang ditargetkan pada Desember diajukan untuk menjadi peraturan daerah.

“Paling tidak sudah memberikan informasi kepada kita tentang wilayah yang rentan terhadap likuefaksi, tadi saya sudah katakan memang perlu ada pembuatan peta yang lebih rinci lagi itukan kaitannya kemarin dengan tata ruang,” jelasnya.

Hidayat mengatakan daerah-daerah terdampak likuefaksiseperti di kelurahan Balaroa dan Kelurahan Petobo sudah ditetapkan sebagai zona merah yang tidak boleh lagi ada pemukiman diatasnya. Seluruh penduduk yang sebelumnya bermukim ditempat itu akan direlokasi ke hunian-hunian tetap yang disiapkan oleh pemerintah.

Atlas Zona Kerentanan Likuefaksi Indonesia menggunakan warna merah untuk kategori kerentanan tinggi, warna kuning untuk kerentanan sedang, warna hijau untuk kerentanan rendah dan abu-abu untuk wilayah yang tidak memiliki kerentanan terhadap likuefaksi.

Dari 34 Provinsi di Indonesia, ada lima provinsi yang tidak memiliki kerentanan terhadap likuefaksi yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau dan Bangka Belitung. 

Dikutip dari VOAIndonesia.com

https://www.voaindonesia.com/a/badan-geologi-luncurkan-atlas-zona-kerentanan-likuefaksi-indonesia-/5117022.html

%d blogger menyukai ini: