KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

Budaya Damai Belum Sepenuhnya Terbangun di Akar Rumput

Selasa, 10 September 2019 5:46 pm
Budaya Damai Belum Sepenuhnya Terbangun di Akar Rumput
MI/RAMDANI
Utusan Khusus Presiden Untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban Syafiq A. Mughni. 

BUDAYA damai belum sepenuhnya terbangun di dalam akar rumput (grass root). Ada sejumlah penyebab yang membuat implementasi dalam membangun budaya damai itu tidak berjalan sebagaimana mestinya di akar rumput.

Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban Syafiq A. Mughni pun mengakui bahwa masih ada kesenjangan antara ajaran agama yang mewajibkan umatnya untuk hidup damai dengan praktik yang dilakukan di lapangan yang masih sering tidak sesuai dengan ajaran agama tersebut.

“Masih ada kesenjangan. Maka kita ingatkan kembali tentang komitmen damai itu di dalam ajaran kita masing-masing dan kita mencari apa bentuk kerja sama yang paling visible yang bisa kita lakukan,” katanya dalam konferensi pers Musyawarah Nasional Tokoh Antaragama Untuk Membangun Budaya Damai, di Jakarta, Selasa (10/9).

Syafiq menyampaikan ada sejumlah penyebab mengapa budaya damai belum terbangun di tengah masyarakat. Penyebabnya, sambung dia, antara lain persoalan di sektor pendidikan, faktor ekonomi dan integrasi sosial yang masih rapuh.

“Itu bisa saja menjadi penyebab dari ketegangan di akar rumput,” tegasnya.

Salah satu indikator yang bisa menunjukkan bahwa budaya damai belum sepenuhnya terbangun, menurut dia, adalah bagaimana suatu komunitas merespons ketika ada informasi yang tidak benar atau hoaks di media sosial.

“Apakah mereka cukup matang, oh dicek dulu apa benar atau salah. Tapi kalau belum punya budaya damai, itu langsung saja merespons secara gegabah dan itu bisa menimbulkan malapetaka yang lebih luas. Dan sekedar melihat medsos saja, kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana tingkat kematangan budaya damai masyarakat kita,” tuturnya.

Diakuinya, perilaku masyarakat dalam bermedia sosial, kata Syafiq, akan menjadi salah satu yang dibahas di dalam musyawarah nasional tokoh antaragama yang mengangkat tema untuk membangun budaya damai untuk persatuan bangsa yang akan dibuka besok (11/9).

Masifnya hoaks di media sosial, kata Syafiq, akan menjadi salah satu pembahasan para tokoh antaragama yang kemudian akan dicarikan solusi terbaik di dalam Munas tersebut.

“(Hoaks di medsos) Itu menjadi penyebab ketegangan dan juga menjadi indikasi apakah kita sudah matang, sudah melek, sudah literate dalam bermedia atau belum,” terangnya.

Menurut dia, perlu ada langkah dan strategi yang lebih komprehensif untuk membangun budaya damai di tengah masyarakat mulai dari meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menegakkan keadilan, ataupun mendengarkan apa yang diinginkan oleh masyarakat.

“Kita beri solusi terbaik,” tambahnya.

Untuk membangun budaya damai tersebut, terangnya, tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus bekerja sama dengan forum kerukunan antar umat beragama di daerah-daerah.

“Ada masjid, gereja, pura, wihara, klenteng, itu bisa menjadi partner kita sehingga kita tidak mungkin melakukan kegiatan sendiri tanpa melibatkan mitra strategis kita di akar rumput,” ujarnya.

Sebagai informasi, musyawarah nasional tokoh antaragama untuk membangun budaya damai akan digelar pada 11-14 September 2019. Rencananya, Munas tersebut akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Munas tersebut akan diikuti oleh 250 orang yang terdiri dari tokoh-tokoh berbagai agama khususnya agama-agama yang diakui di Indonesia dan peninjau dari penghayat kepercayaan. 

Dikutip dari MediaIndonesia.com

https://mediaindonesia.com/read/detail/258490-budaya-damai-belum-sepenuhnya-terbangun-di-akar-rumput

%d blogger menyukai ini: