KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

Catatan tentang Harun Masiku

Sabtu, 11 Januari 2020 12:09 pm

Memulai Karier Politik dari Demokrat, Masuk PDIP Terjerat kasus Suap.

Memulai Karier Politik via Demokrat Harun Masiku lahir di Jakarta pada 21 Maret 1971. Ia kemudian dibesarkan di Bone, Sulawesi Selatan dan menghabiskan masa sekolahnya di sana hingga SMA. Dia kemudian hijrah ke Makassar dan berkuliah di Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin Makassar pada 1989 hingga 1994.

Begitu lulus, ia bekerja sebagai pengacara di Dimhart and Association Law Firm, Jakarta hingga 1995. Karirnya berlanjut di PT Indosat, Tbk sebagai pengacara korporat hingga 1998. Lalu Harun mendapat British Chevening Award dan melanjutkan studi S2 mengenai Hukum Ekonomi Internasional di University of Warwick, Inggris selama setahun sembari menjadi peneliti di universitas yang sama hingga 2002. Hingga saat ini, ia masih tercatat sebagai Senior Partner Johannes Masiku & Associates Law Offices sejak 2003.

Jejak karier politiknya mulai terlihat pada tahun 2009 saat ia menjadi Tim Sukses Pemenangan Pemilu dan Pilpres Partai Demokrat. Pada 2011, ia pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota Komisi III DPR RI. Pada 2014, ia menjajal peruntungannya menjadi caleg dari Partai Demokrat pada Pileg 2014 dengan daerah pemilihan Sulawesi Selatan III. Namun, ia memilih berpindah ke PDI Perjuangan pada Pileg 2019. Kendati tidak lolos ke Senayan, namanya kemudian diusulkan partai untuk menjadi pengganti caleg PDIP lain, Nazarudin Kiemas yang sudah meninggal dunia sebelum pencoblosan namun berhasil lolos ke parlemen.

Dari laman KPU, berdasarkan hasil rekapitulasi perolehan suara PDI Perjuangan untuk Dapil Sumatera Selatan I, peringkat kedua di bawah perolehan suara Nazarudin adalah Riezky Aprilia dengan perolehan 44.402 suara. Kemudian diiikuti dengan Darmadi Djufri yang memperoleh 26.103 suara. Peringkat keempat ditempat Doddy Julianto Siahaan dengan 19.776 suara dan peringkat lima ditempati Diah Okta Sari yang meraih 13.310 suara. Harun Masiku sejatinya berada di peringkat enam dengan perolehan 5.878 suara.

Pada 31 Agustus 2019, KPU kemudian mengadakan rapat pleno dan menetapkan Riezky Aprilia sebagai calon terpilih DPR Dapil Sumsel I. Namun, dalam rapat itu, saksi dari DPP PDIP mengajukan keberatan. Menurut Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, PDIP memiliki wewenang memilih pengganti Nazarudin Kemas karena mengikuti putusan Mahkamah Agung (MA). “Kalau proses pergantian itu, kan, ada keputusan dari MA. Bahwa ketika ada seseorang yang meninggal dunia, karena peserta pemilu adalah parpol, maka putusan MA menyerahkan hal tersebut ke parpol. Tapi keputusannya, kan, tetap ada di KPU. Kami tidak mengambil keputusan,” kata Hasto saat ditemui di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat, ketika meninjau persiapan Rakernas I PDIP, Kamis (9/1/2020) sore.

Hasto juga membenarkan PDIP lebih memilih kader bernama Harun Masiku ketimbang Riezky Aprilia untuk menggantikan Nazarudin Kiemas karena beberapa alasan. “Dia [Harun] sosok bersih dan dalam upaya pembinaan hukum juga selama ini cukup baik track record-nya. Tapi kami itu pertimbangannya karena adanya putusan MA. Tanpa adanya putusan MA itu kami tidak mengambil keputusan terhadap hal tersebut,” kata dia.

Sumber Foto: https://tokoh.kabarkita.org/35859-harun-masiku

Dikutip dari Tirto.id : https://tirto.id/erP7

%d blogger menyukai ini: