KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

HASTO KENA PELURU NYASAR

Senin, 13 Januari 2020 7:10 pm
Foto gatra.com

“Iya, iya (sumber dari Hasto),” jawab Saeful Bahri dengan kesal atas pertanyaan wartawan usai diperiksa KPK di Gedung Merah Putih Jum’at dini hari, 10 Januari 2019 sekitar pukul 02:19. HASTO KENA PELURU NYASAR, justru berasal dari orang kepercayaannya sendiri. Persoalannya berawal dari OTT KPK atas Komisioner KPU, Wahyu Setiawan dalam kasus Pergantian Antar Waktu anggota DPR-RI Fraksi PDI-P, dari Riezeky Aprilia ke Harun Masiku. Ya sudah, ribut. Ketika berita masih seperti tembang rawat-rawat, binandhunging karna, ujare mbok bakul sinambewara, peluru mendesing dari Wakil Sekjen DEMOKRAT Andi Arief yang ber-cit-cit-cuit: “Jika benar ada dua staf sekjend Hasto Kristiyanto dengan inisial S dan D juga ikut OTT KPK bersama caleg Partai tersebut, maka apa arti sebuah tangisan?”

HASTO KENA PELURU NYASAR juga ada dalam cerita Sugriwa-Subali. Persoalan utamanya adalah Dasamuka yang ingin jadi pemilik tunggal aji Pancasonya. Dia selalu berupaya agar Subali, guru pemberi kesaktian “tak bisa mati” itu ditiadakan. Tak-tik jitu dirancang. Dalam sebuah pertemuan ia menggelar hoax. Dasamuka bilang, Guwakiskenda kacau-balau, larang sandhang, larang pangan, sogok-menyogok semakin merajalela. Setiap hari, permaisuri raja, Dewi Tara yang sedang mengandung benih Subali dibentak-bentak dan disiksa. Narpati Sugriwa berkata: “Aku tahu, kamu masih mencintai kakang Subali. Bilang kepadanya, dia saya tunggu dialun-alun selatan untuk menentukan siapa yang benar-benar jago.” Subali tersulut. Mak brubut, dengan berteriak: “Drohon…,” dia lari ke Guwakiskendha. Sugriwa dihajar sampai termehek-mehek.

Sendratari Sugriwa, Subali dan Dewi Tara (Foto Harian Jogja)

Nasip Sugriwa yang dilabrak Subali bisa disepadankan dengan peristiwa yang dialamai Sekjen PDI-P, Hasto Kristianto. Masalah utamanya adalah Wahyu Setiawan dan Harun Masiku. Tapi justru karena ucapan Saeful, Hasto ikut terseret arus. Bahwa Hasto sadar dia menjadi target, itulah konsekwensi politik jaman now. Kalau dia mau melawan, sebaiknya jangan meniru Sugriwa. Merasa diperlakukan semena-mena, serta merta dia lawan kakaknya, Subali. Ya pasti kalah, wong Subali itu sosok digdaya berdarah putih dan punya aji Pancasonya. Seandainya Sugriwa bisa lebih bersabar dan bilang: “Kakang Subali, dalam keadaan seperti ini jengandika pasti tidak percaya apapun yang aku katakan. Oleh karena itu, biarlah diajeng Dewi Tara sendiri yang mengatakan, apa yang sebenarnya terjadi,” niscaya perselisihan kakak beradik ini bisa diselesaikan dengan baik, termasuk merangket Dasamuka yang loba. Perlawanan Hasto harus tulus, cerdik dan jernih. Dia harus mampu menyajukan alibi, beberapa jam setelah Komisioner KPU, WS kena OTT, dia memang sedang diare dan sangat sibuk menyiapkan Rakernas PDI-P, bukan sedang berdua-duaan dengan Harun Masiku di Kompleks PTIK Jl. Tirtayasa Raya no. 6 seperti yang disuguhkan Majalah Tempo edisi 11 Januari 2020 dalam judul “Dibawah Lindungan Tirtayasa”, “Jejak Hasto dan Puyer Kupu-Kupu” dll. Semua harus dilakukan secara terbuka dan apa adanya. Hanya dengan begitu dia bisa melawan nyinyiran memojokkan. Sebenarnyalah, langit yang berawan belum tentu akan hujan. MERDEKA.
TANCEP KAYON

SUD
Pengamat Wayang.
Semarang – Glewanging surya mbok gunung – Senin, 13 Januari 2020.

%d blogger menyukai ini: