KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

JOKOWI LAMBAT

Selasa, 11 Februari 2020 12:52 pm

Kejutan baru menandai sekitar 100 hari Fachrul Razi menjadi Menteri Agama. “Badan Penanggulangan Terorisme dalam waktu dekat akan memulangkan 600 orang yang sekarang tersesat di ISIS di Timur Tengah,” ujarnya dalam acara deklarasi Organisasi Masyarakat Pejuang Bravo Lima di Ballroom Discovery Ancol Hotel, Sabtu, 1 Februari 2020. Ya sudah, gegeran lagi. Kelompok kontra menggelar litani, memunculkan berbagai kekejaman teroris. Bom bunuh diri yang memproduksi sengsara, tangis dan derita, menebar ancaman bagi mereka yang tak sepaham, termasuk warga NU dan sahabat BANSER yang menjadi palang pintu negara Pancasila. Yang pro, selalu menggunakan alasan demi hukum dan kemanusiaan. Sudah 11 hari kita menunggu. Sudah 11 hari pula kita bertengkar. Tapi Presiden Jokowi masih gojak-gajek.

Keraguan Presiden Jokowi mengingatkan saya akan sikap Subali ketika akan memberikan aji Pancasunya kepada raja Alengka, Dasamuka. Sudah 3 bulan Dasamuka berguru kepadanya. Baginya, Dasamuka adalah murid yang jooos… tiada cela. Tapi hatinya masih ragu, dengan alasan, satu, dia dilarang mengajarkan aji itu kepada siapapun. Dua, dia masih khawatir bila aji yang membuat si pemilik “tidak bisa mati” itu disalah gunakan. Seandainya Subali berpegang teguh pada larangan dan hati nurani, dengan cepat dia pasti bisa memutuskan untuk menolak permintaan Dasamuka. Tapi karena kepentingan pribadi agar dianggap sebagai guru yang baik, sosok yang sakti mandraguna, dengan menyimpan keraguan dia ajarkan Aji Pancasunya yang luar biasa itu. Tapi, air susu dibalas air tuba. Subali diadu domba dengan Sugriwa dan guru aji Pancasunya itu mati ditangan Rama.

Keraguan Subali kini menghinggapi Presiden Jokowi. Seperti halnya Subali, sebenarnya dia sudah tahu aturan perlakuan terhadap eks WNI anggota ISIS. Entah dengan pertimbangan apa, sehingga pak JOKOWI LAMBAT mengambil sikap. Dengan mengatakan: “Kalau bertanya kepada saya, saya akan bilang tidak. Tapi, masih dirataskan,” itu tidak cukup. Pernyataan itu tidak meredakan pertengkaran. Sehari setelah pernyataan Presiden, Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir masih mengatakan: “Jadi pulang dan tidak mereka, serta bagaimana perlakuan Negara, tentu kami percayakan kepada ketentuan hukum yang berlaku.” Sebaliknya Ketua Umum PB NU, KH Said Aqil Siroj menegaskan: “Saya tolak, saya tidak setuju. Mereka sudah meninggalkan negara, sudah membakar paspornya, sudah mengatakan kita ini thagut, terutama NU, anshorut thagut, pendukung thagut.” Isu pemulangan 600 kombatan ISIS membuat masyarakat terbelah. Ketua DPR, Puan Maharani juga masih gendhulak-gendhulik. Mau setuju, hati kecilnya berkata lain. Tapi bila menolak, kok masih ada rikuh politik. Dilingkungan Kabinet, Menhan Prabowo ‎tidak mempersoalkan pemulangan eks WNI anggota ISIS. Dia bilang: “Ya nanti tentunya nanti ada lembaga-lembaga yang diberi wewenang. Saya kira itu tugas BIN, Kepolisian untuk teliti mereka.”
Sampai naskah ini ditulis, belum ada keputusan sikap yang pasti tentang 600 kombatan ISIS eks WNI. Padahal, pernyataan elit politik yang pating blasur telah membingungkan rakyat. Sebenarnyalah, kali ini pak JOKOWI LAMBAT. MERDEKA.
TANCEP KAYON

SUD
Pengamat Wayang
Semarang – Bedhug tengange – Selasa, 11 Pebruari 2020.

%d blogger menyukai ini: