KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

Pebisnis Harus Siap-Siap Menyongsong Pelemahan Ekonomi Global

Minggu, 27 Januari 2019 1:23 pm
Ilustrasi Pelemahan Ekonomi (Foto Marketeers.com)

Pelemahan ekonomi global sudah diperingatkan oleh berbagai kalangan, baik internasional maupun Menkeu Sri Mulyani. Pemerintah Jokowi-pun sudah bersiap untuk menangkalnya dengan berbagai kebijalan. Kitapun tidak perlu kawatir karena tidak akan sebesar 2018 gejolaknya. Demikian dinyatakan oleh Menkeu Sri Mulyani (babr.topbuzz.com/artickle 26/01/2019).

Pelemahan ekonomi global yang bersifat makro tentu akan berimbas juga pada dunia usaha (mikro). Bagaimana dunia usaha perlu mengantisipasinya.

  1. Pelemahan ekonomi global terjadi karena pelemahan ekonomi beberapa negara. Pelemahan ekonomi akan menyebabkan kegiatan ekonomi dan produksi serta daya beli masyarakat pada negara-negara itu menurun. Bagi perusahaan exportir tentu akan berdampak langsung yaitu berkurangnya export. Pelambatan ekonomi dunia juga akan berdampak pada perusahaan lokal namun dalam intensitas yang lebih ringan. Yang perlu dilakukan sebagai langkah antisipasi adalah : pertama-tama adalah memperluas pasar pada negara bukan tujuan utama eksport. Kedua memastikan mitra bisnis tetap akan membeli dari kita walau mungkin berkurang. Melalukan efisiensi biaya untuk meningkatkan atau setidak-tidaknya mempertahankan daya saing. Perusahaan lokalpun harus melalukukan perluasan pelanggan, menjaga volume penjualan dan efisiensi biaya.
  2. Pelemahan ekonomi juga disebabkan oleh sentimen negatif investasi dan juga perdagangan. Kondisi ini akan menurunkan tingkat investasi, pembelian, pembangunan proyek, dan akhirnya penjualan dan produksi. Ketidak pastian atau risiko bisnis jelas akan meningkat. Barang-barang produksi Cina yang dibatasi eksportnya ke USA, dan sebaliknya barang-barang Amerika yang dibatasi oleh Cina bisa saja membanjiri pasaran ASEAN dan negara-negara lain. Oleh karena itu bagi perusahaan perlu melakukan hal-hal sebagai berikut. Meminimalisir persediaan agar tidak terjadi barang kadaluwarsa. Kedua menjaga likuiditas dan perputaran modal kerja, menekan idle stock, mencegah piutang menumpuk, menekan laju pertumbuhan hutang dan biaya harus ditekan. Ketiga perlu membuka pasar baru agar barang-barang seri / keluaran atau seri lama tetap dapat dijual walau ada arus masuk barang keluaran baru dari luar negeri. Pemasaran dan kerjasama antar perusahaan perlu ditingkatkan, di sinilah pemasar senior dan CEO harus mulai terjunml.
  3. Pebisnis harus sudah mulai melakukan pemetaan, identifikasi dan kalkulasi pendapatan dan biaya atas berbagai kegiatan dan lini produksi yang tidak efisien. Selanjutnya perlu dilakukan penataan baik program / manajemen penjualan, manajemen produksi, keuangan maupun biaya. Intinya kita perlu melakukan kegiatan antisipatif.

Penataan atau restrukturisasi kegiatan dan biaya tentu harus diarahkan pada peningkatan efisiensi dan memperkuat daya saing perusahaan, selain itu juga untuk menghilangkan kegiatan dan biaya yang tidak perlu atau dapat dialihkan. Untuk itu berbagai kajian internal perusahaa dan eksternal perusahaan perlu dilakukan. Ada banyak cara maupun teknik yang dapat dipergunakan untuk itu antara lain SWOT, Balance Score Card dan atau teknik-teknik lainnya.

Kita tidak perlu panik, karena kebijakan Pemerintah Jokowi melalui Menkeu Sri Mulyani, kementerian perindustrian dan perdagangan juga sudah mempersiapkan berbagai langkah perlindungan dunia usaha Indonesia. Namun itu tidak berarti kita berpangku tangan saja. Langkah-langkah pemerintah yang disusun itu tentulah dimaksudkan untuk menjaga daya saing maupun memberi keringanan beban usaha serta insentif usaha.

%d blogger menyukai ini: