KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

POLISI TALIBAN dan POLISI INDIA

Rabu, 11 September 2019 1:26 am
PM India Narendra Modi dan Presiden Afghan Ashraf Ghani  meresmikan waduk Salma (Foto Wikipedia.com)

Hari ini, Rabu Wage, 11 September 2019, 5 calon pimpinan KPK akan menjalani fit and proper test – uji kepatutan dan kelayakan – di Komisi III DPR. Sedang 5 lainnya akan dilaksanakan besuk. Mengawali pekerjaannya, Panitia Seleksi (Pansel) Komisioner KPK bertekat untuk membersihakan calon terdaftar dari pahan radikalisme. Ketua-nya, Yenti Gunarsih, Rabu 19 Juni 2019, mengatakan: “Kami berjaga-jaga dan berusaha agar tidak ada orang yang terpapar paham itu (radikalisme) jadi komisioner KPK. Dari 260 juta orang di Indonesia masa tidak ada lima orang yang baik. Kan kita hanya butuh lima saja.”

Karna dan Bhisma (Tanggapan layar Video)

Harus memenuhi kwalifikasi khusus, karena tugas berat bagi bangsa dan negara, juga diterapkan Resi Bisma dalam perang Bharatayuda. Sebagai Panglima Tertinggi pasukan Astina yang berjumlah 11 haksahini, dia mewajibkan semua calon senapati untuk bersumpah setia kepadanya. Merah kata Bisma, merah pula yang harus dilakukan oleh para Senapati berikut pasukan dibawahnya. Semua calon senapati setuju, kecuali Karna. Dia mengatakan: “Mana mungkin aku harus bersumpah setia kepada Resi Bisma? Karena kebaikan hati Yayiprabu Duryudana, sejak remaja aku sudah bersumpah untuk selalu setia hanya kepadanya. Aku akan membelanya sampai titik darah penghabisan.”

Sikap Bisma diatas, bisa disepadankan dengan Pansel. Seperti halnya Bisma, Pansel mengharuskan calon komisioner loyal kepada Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945, yang menurut Swargi Mbah Mun disebut sebagai PBNU. Salah satu bentuk ketidak loyalan itu disebut paham radikalisme. Seperti diketahui, Neta S. Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch bertutur, ada indikasi telah menyusup paham radikalisme di tubuh lembaga anti rasuah ini. Untuk menjamin agar Komisioner KPK yang baru adalah sosok yang benar-benar cinta NKRI dan mengimani ideologi Pancasila, Pansel telah melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme untuk menelusuri rekam jejak semua calon sebelum sampai kepenyaringan berikutnya. Pak Neta dalam diskusi bertema ‘Bersih-bersih Jokowi: Menyoroti Institusi Antikorupsi’ di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu 5 Mei 2019 bertutur: “Sekarang berkembang isu di internal (KPK), katanya ada POLISI INDIA dan ada POLISI TALIBAN. Ini kan berbahaya. Taliban siapa? Kubu Novel (penyidik senior KPK, Novel Baswedan). Polisi India siapa? Kubu non-Novel. Perlu ada ketegasan komisioner untuk menata dan menjaga soliditas institusi ini.” Bila demikian, hanya Komisioner yang imannya Pancasila, yang berani dan mampu meniadakan segala kepentingan yang sekarang sedang berkembang. Kita berharap, Komisi III DPR tidak lupa akan sinyalemen Pak Neta, yang telah ditindak lanjuti oleh Ibu Yenti Gunarsih dkk. Contoh, salah satu pertanyaan yang bisa disampaikan kepada para calon adalah: “Seperti apa pelaksanaan ‘ayat suci diatas ayat konstitusi’dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?” MERDEKA.
TANCEP KAYON

SUD
Pengamat Wayang
Semarang – Aja turu sore kaki – Rabu, 11 September 2019.

%d blogger menyukai ini: