KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

Polri Tangkap Dua Orang Yang Pekerjakan WNI di Taiwan Dengan Iming-Iming Beasiswa Kuliah

Rabu, 9 Oktober 2019 8:42 pm
toga

Kepolisian RI menangkap dua orang yang dituduh menyalurkan sedikitnya 40 warga Indonesia untuk bekerja di Taiwan dengan iming-iming beasiswa kuliah.

Penangkapan dua orang berinisial LK dan MJ ini diungkap kepada wartawan di Bareskrim Polri, Rabu (9/10).

“Modusnya tersangka menawarkan kepada calon korban untuk kuliah dengan diberi beasiswa atau dibiayai sambil kerja dengan modal biaya administrasi Rp35 juta,” kata Wakil Direktur Tindak Pidana Umum (Wadirtipidum) Kombes Agus Nugroho dalam konferensi pers, sebagaimana dikutip Kompas.com.

Tapi, jelas Agus, setelah korban kuliah dan bekerja di Taiwan, penghasilan mereka akan digunakan untuk melunasi biaya administrasi tersebut.

Para korban rata-rata berasal dari wilayah Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Dalam menjalankan aksinya, pelaku disebut meminta para korban melengkapi administrasi selayaknya seseorang akan mendaftar kuliah, termasuk memberikan dokumen KTP, Kartu Keluarga (KK), SKCK, surat persetujuan orang tua, hingga ijazah sekolah.

Sebelum diberangkatkan, papar Agus, para korban dan calon korban direkrut dan ditampung terlebih dulu selama beberapa waktu di Jakarta.

“Selama di penampungan, ada semacam kamuflase dengan menghadirkan perwakilan dari Taiwan yang mewawancarai korban untuk meyakinkan korban dan keluarganya,” terang dia.

“Sesudah (dokumen) lengkap, mereka lalu diberangkatkan ke Taiwan,” lanjut dia.

Mereka dijanjikan kuliah di Chienkuo Technology University dan mendapat gaji dari pekerjaan sebesar NT27.000 (Rp12,4 juta). Namun pada kenyataannya, para korban dipekerjakan dari Senin hingga Sabtu di pabrik pembuatan rak besi.

Adapun pada Minggu, mereka menjalani kegiatan belajar bahasa Taiwan yang dibuat seolah-olah seperti kuliah dengan melibatkan orang lokal yang juga sebagai jaringan pelaku.

“Setelah di Taiwan, mereka kerja dari Senin-Sabtu dan untuk hari Minggu, dikamuflase seolah-olah seperti kuliah. Tapi isinya belajar bahasa Taiwan untuk memudahkan pekerjaan itu sendiri,” terang Agus.

Para korban juga hanya menerima gaji sebesar NT5.000 atau Rp2,2 juta. Bahkan di antara mereka ada yang sama sekali tidak menerima gaji.

Atas perbuatannya, LK dan MJ dijadikan tersangka dengan Pasal 4 Nomor 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dan atau Pasal 83, Pasal 86 Huruf A UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

Taipeh
Mahasiswa Indonesia di Taiwan diperkirakan berjumlah 6.000 orang.

Modus kuliah

Pada Januari lalu, anggota parlemen Taiwan dari Partai Kuomintang, Ko Chih-en, menyebutkan sejumlah universitas mempekerjakan secara paksa ratusan mahasiswa Indonesia ke pabrik-pabrik dalam program magang.

Anis Hidayah, ketua pusat studi migrasi Migrant Care, menilai ada unsur perdagangan manusia dalam skema tersebut.

“Kita melihat ini trafficking ya, tapi dengan modus pengiriman mahasiswa magang. Sebenarnya, ini sudah lama sekali modus seperti ini,” ungkap kepada wartawan BBC News Indonesia, Rivan Dwiastono, Januari lalu.

Anis mengatakan yakin praktik ini perdagangan manusia karena terjadinya overtime alias jam kerja melewati peraturan dan gaji yang tidak standar.

“Ketiga, unsur eksploitasinya masuk, kemudian yang keempat, bahwa ada penipuan di banyak proses. Yang kelima, tentu keuntungan besar oleh para pemainnya,” paparnya.

Menurut Anis, kasus serupa pernah terjadi beberapa tahun yang lalu di Malaysia dengan tawaran edukatif dijadikan kedok perdagangan manusia.

“Itu dimanfaatkan, karena ini dilihat reguler, potensinya ada, jaringan trafficking itu kan melihat supply dan demand juga,” tutur Anis.

Dikutip dari bbc.com

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49982170

%d blogger menyukai ini: