KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

SANTET

Sabtu, 18 Mei 2019 2:54 am

Tentang meninggalnya ratusan para anggota KPPS, politisi GERINDRA, Fadli Zon berkomentar: “Apa yang sebenarnya terjadi harus diinvestigasi. Mungkin ada riwayat penyakit, mungkin lelah, racun. Bahkan sampai ke hal ghaib seperti kena SANTET dan sebagainya. Realitas perbuncangan di masyarakat, enggak bisa dianggap enteng.”

Foto Detik.com

Dalam wayang, sumber SANTET berasal dari Betari Durga dan Betara Kala. Sedemikian menakutkan kena SANTET, dalam cerita Dewi Lara Amis, Semar selalu menjaga si kecil Abiyasa agar tidak terkena SANTET. Dalam pengembaraan bersama ayahandanya, Begawan Palasara, si kecil Abiayasa diasuh oleh Semar. Dia adalah satu-satunya orang yang mampu mengatasi SANTET dari manapun datangnya. Setiap malam, ketika Abiyasa terlelap, Semar selalu melantunkan tembang Dhandhanggula, yang berisi mantran suci penolak bala.
Ana kidung, rumeksa ing wengi; Teguh ayu luputa ing lara; Dohna ing bilai kabeh; Jim setan datan purun; Paneluhan tenung tan wani; Miwah panggawe ala; Gunane wong luput; Hagni atemahan tirta; Maling adoh tan ana ngarah mring mami; Tuju duduk pan sirna.

Semar
https://www.thejakartapost.com/life/2018/05/22/semar-in-the-eyes-of-sohieb-toyaroja.html

Bahaya SANTET yang mengintip Abiyasa, bisa disepadankan dengan isu SANTET yang pernah disampaikan Fadli Zon. Konon, SANTET adalah gaib. Dia tidak kasat mata. Tahu-tahu ada dalam bentuk kesakitan dan kematian. Apalagi kok akibat SANTET. Baru mendengar isunya saja, berdiri aku punya bulu kuduk. Tidak hanya menakutkan orang per orang, tapi isu SANTET juga menggelisahkan masyarakat. Masyarakat bisa saling curiga satu sama lain. Dan muaranya adalah pertengkaran horisontal. Kita masih ingat peristiwa SANTET di Banyuwangi tahun 1998. Peristiwa SANTET merebak di 20 Kecamatan, dengan korban lebih dari 115 orang meninggal dunia karena isu dukun SANTET. Seperti halnya Semar yang mampu menangkal SANTET, beruntung, sebelum Fadli Zon omong tentang SANTET, pada tanggal 12 Mei 2019 Kemenkes telah mengumumkan penyebab wafatnya para anggota KPPS tersebut diatas. Mereka berumur antara 50 – 59 tahun, 1 orang karena kecelakaan, dan sebelumnya telah mengidap 13 jenis penyakit, yaitu infarct myocard, gagal jantung, koma hepatikum, stroke, respiratory failure, hipertensi emergency, meningitis, sepsis, asma, diabetes melitus, gagal ginjal, TBC, dan kegagalan multiorgan. Hasilnya lumayan. Dengan pengumuman itu, Pemerintah telah mencegah meluasnya isu SANTET.

Sebenarnyalah, isu petugas KPPS meninggal dunia karena di SANTET harus dihindari. Berkembangnya isu itu bisa berakibat kegelisahan, yang kurang bejane bisa menimbulkan gesekan-gesekan horisontal. Masyarakat yang gelisah inilah yang menjadi tujuan Kampanye a la Rusia atau Propaganda Firehose of The Falshood, yang akan memecah belah negeri. MERDEKA
TANCEP KATON

SUD
Pengamat Wayang
Semarang – Sabtu, 18 Mei 2019.

%d blogger menyukai ini: