KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

Sembilan Bulan Pemulihan Trauma di Bali, Bon Bon Si Orang Utan Akhirnya Pulang ke Habitatnya

Minggu, 22 Desember 2019 10:21 am
Bon Bon berhasil diselamatkan dari upaya penyelundupan oleh seorang warga Rusia di Bali pada Maret lalu. Orang utan ini harus menjalani pemulihan trauma selama 9 bulan sebelum bisa dikembalikan ke habitatnya di Sumatra. (Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo via Reuters)

Bon Bon si orang utan Sumatra yang berhasil diselamatkan dari upaya penyelundupan di Bali pada Maret lalu, akhirnya bisa dikembalikan ke habitatnya sendiri di Sumut. Inilah kisah keakrabannya dengan satu-satu petugas satwa yang bisa mendapatkan kepercayaan dari Bon Bon.

Bon Bon Pulang ke Rumahnya

Selama berbulan-bulan menjalani pemulihan trauma, Bon Bon tidak pernah bisa dijinakkan oleh semua petugas yang merawatnya di Bali Safari Park.

Trauma yang dialami orang utan ini terjadi setelah pria asal Rusia Andrei Zhestkov (27) membiusnya dengan obat anti alergi yang dicampurkan ke susu.

Andrei mengakui perbuatannya dengan dalih ingin membawa Bon Bon ke kampungnya di Vladivostok, Rusia, sebagai hewan piaraan.

Petugas berhasil menemukan Bon Bon yang telah dimasukkan ke keranjang rotan di dalam koper milik Zhestkov di bandara Bali.

Selain Bon Bon, Andrei rupanya juga kedapatan membawa dua ekor tokek dan empat ekor bunglon.

Polisi setempat menjelaskan pada Maret lalu bahwa Andrei telah mengakui perbuatan itu. Dia, katanya, membeli orang utan sebesar seharga Rp 30 juta dari salah satu pasar di Jawa.

Agar hewan-hewan itu tak menimbulkan kecurigaan dalam perjalanan, Andrei pun membiusnya dengan harapan mereka bisa “diam” selama 10 jam sebelum sampai ke Rusia.

Tapi Andrei kini justru berakhir dalam penjara setelah Pengadilan Negeri Denpasar pada Juli lalu menjatuhkan vonis satu tahun dan denda Rp 10 juta.

Hanya percaya pada Ketut Diandika

Sejak kejadian itu, Bon Bon jadi sangat agresif menyerang setiap orang yang coba mendekatinya.

Tapi petugas satwa di Bali Safari Park tak berputus asa. Mereka bahkan memberinya boneka orangutan sebagai pengganti ibunya.

Bon Bon menghabiskan sembilan bulan menjalani rehabilitasi di sana.

Dengan penuh kesabaran, perhatian, dan bantuan dua orang utan lainnya, petugas bernama Ketut Diandika akhirnya berhasil mendapatkan kepercayaan dari Bon Bon.

Diandika-lah yang pekan ini membawa Bon Bon ke Sumatra Utara lewat pesawat udara. Dia diharapkan dapat segera dikembalikan ke habitat aslinya.

Perjalanan Bon Bon dari Bali Safari Park ke Sumatra memakan waktu sembilan jam, termasuk jalan darat ke Bandara Ngurah Rai, penerbangan ke Jakarta dan waktu transit, kemudian penerbangan kedua ke Medan.

Setelah itu, dilanjutkan dengan perjalanan darat lagi ke Program Konservasi Orang Utan Sumatera di Batu Mbelin.

Sebelum perjalanan, Bon Bon diberi makan buah-buahan, termasuk pisang dan rambutan.

Dokter hewan yang ikut rombongan itu telah mengecek kondisi kesehatan Bon Bon sebelum dimasukkan dalam peti bersama bonekanya.

Diandika tampak terus menghibur Bon Bon sampai peti ditutup dan perjalanan dimulai. Sebuah jendela geser pada peti itu memungkinkan Bon Bon mengintip dan meraih potongan buah.

Diandika harus tinggal bersama Bon Bon selama beberapa hari di Program Konservasi Orang Utan Sumatra, membantunya beradaptasi dengan orang utan lain – dan penjaga baru – sebelum ia dilepasliarkan.

“Kami ingin memastikan Bon Bon tidak mengalami peristiwa yang sama ketika dipisahkan dari induknya, dipisahkan dari pasangannya,” kata dr Yohan Kusumaningtyas dari Bali Safari Park kepada ABC News..

Selama masa transisi, pengelola konservasi di Sumatra akan memperkenalkan kembali Bon Bon ke makanan alami dan lingkungannya.

Semua kontak Bon Bon dengan manusia dan boneka orang utan, pelan-pelan akan dikurangi sampai hewan primata ini kembali ke keadaan semula.

Belum bisa diperkirakan berapa lama proses rehabilitasi tersebut akan berlangsung, namun petugas di sana mengatakan kemampuan orang utan membangun sarang di pohon menjadi salah satu pertanda.

Spesies orang utan Sumatra (Pongo abelii) kini terancam punah karena perburuan, perdagangan, dan hilangnya habitat mereka.

Belum lama ini polisi setempat menyatakan tiga bayi orang utan yang ditangkap dari alam liar ditemukan di pinggir jalan di Riau.

Menurut catatan, spesies ini hidup di kawasan hutan perbatasan Sumut dan Aceh dan tinggal sekitar 13.400 orang utan Sumatra yang tersisa di alam liar.

Dikutip dari abc.net

https://www.abc.net.au/indonesian/2019-12-19/9-bulan-trauma-di-bali-bon-bon-si-orang-utan-akhirnya-bisa-pul/11813242

%d blogger menyukai ini: