KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

Sho Bun Sheng, Gerilyawan Indonesia.

Selasa, 8 Januari 2019 9:59 am

Diantara banyaknya pahlawan bangsa Indonesia, tersebutlah satu tokoh kelahiran Kutaraja, Aceh pada 12 November 1911, beliau bernama Sho Bun Sheng.

Menikah dengan Hu Chung Jing di Padang. Sho sejak 1937, telah ikut aktif dengan orang2 Tionghoa Padang lainnya, untuk berjuang bersama2 komponen lain bangsa Indonesia. Perjuangan tersebut adalah untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Belanda hingga masa pendudukan Jepang.

Era kemerdekaan, Sho tergabung dalam Batalyon Pagaruyung dan mendapatkan penempatan tugas sebagai tentara di berbagai wilayah Republik Indonesia.

Sho Bun Seng pensiun dari TNI Angkatan Darat dengan pangkat Pembantu Letnan pada tahun 1958. Pada tahun yang sama, beliau mendapatkan Surat Tanda Djasa Pahlawan dari Presiden Soekarno atas jasanya dalam perjuangan gerilya membela kemerdekaan negara.

“Yang terpenting adalah membela kemerdekaan dan kalau sudah merdeka untuk apa minta-minta jasa!”

sosok satu ini, baru mengurus pensiunnya pada tahun 1967, itupun karena desakan rekan2 seperjuangannya. Baru pada tahun 1968 keluar rapel pensiunannya yang bernilai jutaan, dari nilai jutaan itu, yang diambilnya hanya beberapa ratus ribu. Sebagian besar lainnya dibagi2kan kepada rekan2nya. Luar biasa!

Jiwa dan tindakan sosial dari So Bun Seng terus dilakukan sampai akhir hayatnya. Beliau meninggal pada bulan September 2000. Dan pihak keluarga tak menyangka sama sekali jika almarhum kemudian dijemput pasukan kehormatan dan secara militer dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata, padahal semula sudah disiapkan makam di suatu Taman Pemakaman Umum.

Satu teladan yang sulit dicari tandingannya, pahlawan yang satu ini tak pernah dapat menolak permintaan bantuan dari orang yang datang. Sekalipun tak ada uang dikantongnya, dia akan berusaha meminjam kepada orang lain untuk kemudian diberikan kepada orang yang membutuhkan tersebut. Dan kemudian, beliaulah yang berhutang.
Beliau adalah lilin bangsa, yang menghabisi dirinya sendiri, demi hadirnya terang bagi yang lain (Ir.Azmi)

Yang menyedihkan, sebagaimana dituturkan oleh putra beliau bernama Tjandi W Sudjana, bahwa ayahandanya tak meninggalkan pesan terakhir, tapi justru satu pertanyaan memilukan:
“Bagaimana situasi Jakarta, ribut atau tidak negara ini?”

Kitalah semua, generasi penerus bangsa yang harus selalu terngiang2 dengan pertanyaan tersebut, dan harus segera menyiapkan jawaban :
“Wahai pahlawan, Jakarta telah aman saat ini, negara pun menjadi nyaman bagi segenap warga negaranya, karena, kita telah: Sebangsa Setanah Air dan Setara!”

Sumber:

http://purnomoimansantoso4a.blogspot.com/2008/08/sho-bun-seng.html
%d blogger menyukai ini: