KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

Sinisme Mochtar Lubis Yang Masih Relevan

Minggu, 11 Agustus 2019 5:54 am

Penulis Rahadian Rundjan esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah

Mochtar Lubis (Wikipedia.com)

Pada 6 April 1977, seorang Batak bernama Mochtar Lubis, yang semasa hidupnya berkecimpung dalam dunia jurnalistik dan sastra itu, naik ke podium seraya memulai pidatonya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Apa yang keluar dari mulutnya kemudian adalah sederetan panjang kata-kata yang membuat telinga panas, bisa menyulut emosi, atau kontemplasi, tergantung yang mendengarnya. Pendiri kantor berita ANTARA dan mantan penghuni hotel prodeo di masa Sukarno itu dengan tajam mengemukakan pandangannya mengenai sifat-sifat khas, yang sayangnya buruk, dari orang-orang Indonesia.

Pidato tersebut kemudian dibukukan dengan judul Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab). Ketika publikasinya meluas, maka semakin kontroversial pandangannya di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang kala itu mulai menemukan bentuknya di bawah Orde Baru. Mochtar menyebut bahwa ada enam sifat manusia Indonesia yang khas, melekat, dan juga saya rasa, akan sulit diubah. Keenam sifat tersebut adalah (1) munafik atau hipokrit, (2) enggan dan segan bertanggung jawab, (3) berperilaku feodal, (4) percaya takhayul, (5) artistik, dan (6) berkarakter lemah.

Tentu pidato itu lebih dari sekedar olok-olok intelektual karena sang penyampai sudah banyak makan asam garam sebagai wartawan tiga zaman dan pelaku sejarah. Pro dan kontra bersambut, namun Mochtar tetap teguh pada pendirian kritis-sinisnya dalam menanggapi tanggapan-tanggapan publik (dapat dibaca di paruh terakhir buku tersebut). Mungkin pandangan Mochtar adalah sebuah otokritik paling populer terhadap mitos “keunggulan” masyarakat Indonesia yang kerap dicitrakan bertenggang rasa dan gemar bergotong royong; dan mungkin, yang paling tidak dihiraukan atau dicap sebagai generalisasi ugal-ugalan.

Pun begitu, setelah 41 tahun berlalu, terlebih bertepatan dengan fenomena kian dinamisnya watak masyarakat di tahun politik ini, akankah  pandangan Mochtar masih relevan?

Stereotip Yang Beralasan

Tentu, dapat dipertanyakan manusia Indonesia mana yang dimaksud mengingat Indonesia begitu beragam. Namun, saya setuju dengan Jakob Oetama, pendiri Kompas, seperti ditulisnya di pengantar buku tersebut bahwa Mochtar menarik analisisnya berdasarkan stereotip yang berdasarkan “pengalaman, observasi, prasangka, dan generalisasi”, dan bagaimana itu, menurutnya, bermanfaat sebagai pangkal tolak dan bahan pemikiran kritis dirinya. Namun, mengingat masih begitu aktualnya enam sifat manusia Indonesia tersebut kini, rasanya subyektivitas Mochtar bisa terlihat sebagai hal obyektif, dalam batas-batas tertentu.

Sifat pertama, hipokrit atau munafik. Lebih jauh, maksudnya adalah kegemaran orang-orang Indonesia memasang sikap “asal bapak senang” dan bermuka dua dalam kehidupannya. Jika dahulu Mochtar secara khusus menyentil kultur korupsi di Pertamina dan kelambatan tindakan hukum terhadapnya, maka kini kasusnya tidak banyak berubah. Kita bisa melihat bagaimana beberapa kepala daerah dengan alimnya menghadiri aksi bela Islam 212, berorasi dengan kesalehan, namun ternyata terbukti korup dan berakhir mendekam di penjara. Bahkan, koruptor pun dapat melenggang mulus ke arena pencalonan legislatif kembali.

“Dia ikut maki-maki korupsi tetapi dia sendiri seorang koruptor,” tulis Mochtar, yang juga mengingatkan saya akan iklan televisi mantan partai berkuasa yang kader-kadernya dengan lantang berkata tidak pada korupsi, namun terbukti dusta.

“Bukan saya”, menurut Mochtar, adalah kalimat yang cukup populer di manusia Indonesia. Terutama jika mereka tengah menjadi pihak yang bertanggung jawab. Rasa enggan bertanggung jawab ini, yang adalah sifat kedua, biasanya hadir secara khas dalam kasus-kasus korupsi yang terstruktur. Atasan yang paling bertanggung jawab akan melempar kesalahan ke bawahan, semata-mata untuk mengelak. “Perintah atasan” juga menjadi alasan mengelak populer lainnya. Atau yang agak jenaka, bahkan ada mantan menteri yang memborong perabotan-perabotan aset kementeriannya usai masa tugasnya selesai.

Sifat ketiga, feodalisme, dan sifat keempat, percaya takhayul, semestinya sudah harus ditanggalkan tepat ketika Indonesia merdeka hadir di alam modern ini. Nilai-nilai lama ini, yang ketika dibenturkan dengan tata cara dan laku hidup masyarakat modern pastilah terasa kuno dan tertinggal, namun entah mengapa masih mengakar dalam masyarakat.

Misalnya, para wakil rakyat selalu merasa ingin dihormati dan anti-kritik bak raja, padahal mereka hanyalah pemegang mandat. Dan lihatlah bagaimana sebagian pos-pos kekuasaan diisi orang-orang tak berkualifikasi, semata-mata karena alasan “keluarga” atau “orang dekat”. Masalah ini pula lah yang membuat orang-orang cerdas Indonesia enggan pulang dari luar negeri. Atmosfer instansi riset dan pendidikan di Indonesia umumnya masih tidak sehat bagi mereka yang senang dengan kompetisi intelektual yang sportif. Banyak kasus memperlihatkan proyek-proyek riset kerap dibagi-bagi atas dasar “pertemanan”, bukan keahlian.

Faktor takhayul juga menjadi alasan tersendatnya perkembangan pola pikir orang-orang Indonesia. Orang-orang, baik itu yang berpendidikan tinggi maupun rendah, tidak luput dari kebiasaan mengamini hal-hal takhayul dalam banyak hal. Mulai dari takhayul-takhayul tradisional, semacam penyembahan terhadap benda-benda mati yang dianggap magis, sampai takhayul modern berupa mantra-mantra politik, alias jargon-jargon, yang memabukkan. Mochtar mencontohkan kata-kata seperti “Nekolim, Vivere Pericoloso, Berdikari, Jares, Usdek, Resopim, dan sebagainya” di masa Sukarno. Saya rasa, itu serupa dengan mantra-mantra kontemporer semisal “revolusi mental” atau “Indonesia bubar”.

Sifat kelima, artistik, terdengar lebih baik meski dalam konteks tertentu merisaukan. Indonesia memang memiliki tradisi seni yang kaya, yang terbentuk dari serangkaian panjang transformasi dan campur aduk antara elemen-elemen lama dengan elemen-elemen baru. Karenanya, pada awalnya masuknya gagasan-gagasan agama baru tidak selalu berbenturan dengan tradisi seni setempat. Sifat artistik ini sayangnya mulai mendapat tantangan di sana-sini seiring dengan makin kuatnya paham fundamentalis. Misalnya, di beberapa daerah, patung-patung dirusak atau dirobohkan oleh massa dengan dalih mengganggu keimanan.

Dan sifat keenam, berwatak lemah adalah alasan mengapa orang-orang  Indonesia cenderung tidak berpikir jernih sehingga mudah terbawa arus dan terprovokasi. Kelemahan inilah yang dahulu membuat orang-orang Eropa mudah mengelabui orang-orang Indonesia di masa penjajahan. Sayangnya, bahkan sampai sekarang pun tekhnik adu domba masih begitu ampuh, khususnya di tahun politik. Buktinya, kata-kata “cebong” maupun “kampret” kian bising di jagat dunia maya, dan jargon-jargon provokatif kian bergema di panggung-panggung kampanye. Misalnya, tahu dari mana kita kalau pemilih akan benar-benar masuk surga jika sekedar mencoblos Jokowi?

Kapan Bisa Berubah?

Kesimpulannya, apa yang dikatakan oleh Mochtar Lubis masih begitu relevan, atau bahkan semakin memburuk dengan kian kompleksnya dinamika kehidupan masyarakat Indonesia di masa Reformasi ini. Saya rasa, tahun politik 2019 akan menjadi panggung pertunjukkan besar untuk kian membuktikan pandangan Mochtar ini.

Pesimisme kadang perlu untuk menakar-nakar segala kemungkinan terburuk dan mereduksi bahaya, dan bahkan, memberi inspirasi bagi secercah optimisme. Jika kita ingin berubah dan melepas stigma enam sifat manusia Indonesia ala Mochtar Lubis ini, mungkin yang pertama harus dilakukan adalah mengakuinya sebagai realita, bukan mengelak bahkan membantahnya.

Penulis: Rahadian Rundjan
Penulis: Rahadian Rundjan

Dikutip dari dw.com

https://www.dw.com/id/sinisme-mochtar-lubis-yang-masih-relevan/a-46853890

%d blogger menyukai ini: