KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

Suara dari Papua untuk “Kanjeng Romo” Amin Rais

Kamis, 4 April 2019 10:05 pm
Jokowi berdialog dengan warga Papua.

Anekdot Gus Dur

Selama Amin Rais masih tetap A-, tidak akan jadi presiden. Maksud almarhum kalau A+, mungkin beliau berbicara lain. Sindiran pedas ini, rupanya dianggap kelakar oleh sang profesor. Seolah tanpa letih, tidak pandang usia, beliau giat menyerang pemerintahan sah saat ini. Tidak ada rasa bosan dan capek. Diawal reformasi saya pengagum Amin Rais di tokohkan. Belakangan ini, para aktivis 98 malah sebutkan beliau bukan tokoh utamanya. Bermanuver disimpangan jalan, dimana beliau paham akan situasi. Kesempatan itu pilihan, tampil tenar dan cari panggung adalah obsesinya. Ini berhasil. Siapa yang tidak kenal Amin Rais di era itu?

Buah Reformasi

Hantar beliau kearena politik. Muncul sebagai ketua MPR, tempat terhormat. Figur kampus fenomenal dan berpengaruh. Pada masanya, sekian kali terjadi amandemen UUD 45. Harapannya, agar Indonesia lebih berdaulat, bermartabat, maju, makmur dan sejahtera sesuai spirit reformasi. Tapi apa misinya kini? Maju sebagai calon presiden di tahun 2004, tetapi gagal. Rupanya anekdot GUS DUR tepat, tidak meleset. Yang pasti, bukan skenario Tuhan beliau memimpin Indonesia.

People Power ala Amien Rais

Hari-hari ini seantero Nusantara kaget dengan pernyataan tokoh reformis ini. Tanggapan dan reaksi muncul dari beragam kalangan. Sang maha guru besar seakan lupa ini negara, ada konstitusi. Beliau seolah sedang “sakit ingatan” kalau ancaman ini berpotensi timbul konflik horizontal. Bahkan bahaya disintegrasi bangsa terpapar didepan mata. Bagi propinsi-propinsi yang berkeinginan “memerdekakan diri” inilah momentumnya.

“Negarawan” Pecundang

Ungkapan populer, diorasikan dan dikenang dunia oleh presiden Amerika Serikat John F. Kennedy “JANGAN engkau tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu tetapi TANYAKANLAH PADA DIRIMU apa yang telah engkau berikan pada negara”. Sewaktu menjabat ketua MPR, posisi anda mulia. Pemimpin jadi dambaan rakyat, ditangannya cita-cita kemerdekaan dapat diraih. Ini amanat mukadimah UUD 45. Kini, siapapun anak bangsa, sehat nalar dan tidak buta hatinya, justru bertanya “Mengapa Amin Rais berubah total”. Jawabannya, pada Amin Rais dan Tuhan lah yang tahu.

Salahkah Pemerintah?

Bukankah anda yang letakkan dasar reformasi? Anda paham, restorasi suatu bangsa butuh waktu, ada orang baik, bersih dan jujur. Proses kearah itu penting daripada paksakan “birahi politik” kepentingan yang belum jelas hasilnya. Revolusi mental dan character building tugas kita bersama. Andapun pasti tahu, bahwa bersih diri dari suatu rejim otoriter, represif dan korup, bukanlah kerjaan mudah. Membangun peradaban, butuh keadaban manusianya.

Kebiadaban Politik

Adakah ini DRAMA? Lihatlah, carut marut politik yang cuat akhir-akhir ini. Prihatin, dengar “mulut lidah” para elit politik. Mereka insan terdidik, bukan orang sembarangan. Ada oknum DPR RI yang mulia, tapi tak tahu rakyat mana diwakili. Nyinyiran mereka bukan lirik indah surgawi. Tapi Tuhan dan malaikat diajak “secara paksa” terlibat pada pesta demokrasi Indonesia. Bila tidak, Tuhan tak disembah, malaikat pun akan menyesal! Sungguh ironis, tapi nyata. Makna berpolitik diplintir sedemikian rendah. Orientasi politik BUKAN MORAL TAPI KEKUASAAN. Urusan duniawi dikaitkan akhirat, hanya demi hajatan sesaat PILPRES.

Tut Wuri Handayani

Suara Rakyat Suara Tuhan “VOX POPULI VOX DEI”. Mana bisa, pemerintahan “amanah rakyat” disampahi beragam hujatan, tuduhan, kebohongan dan kebencian? Apa ethis, rakyat mau nikmati pesta “demokrasi” terancam, ditakuti dan diadu domba? Rakyat kini makin sadar dan kritis. Panggung Amin Rais tidak lebih pada konferensi pers hoax, doa politik dan berbagai statemen fitnahan lainnya. Sementara JOKOWI tetap setia merajut kesetiakawanan nasional, demi NKRI, Pancasila dan indahnya Kebhinnekaan. Pesan dari Papua, Jokowi membawa kegembiraan dan harapan bagi anak-anak Papua. Haru dan bangga, kita menyaksikan aneka peristiwa ini. JOKOWI kami di Papua mendukungmu, cintamu pada Papua selalu dihati kami.

BENNY OSOK, pemerhati masalah sosial di Papua.

%d blogger menyukai ini: