KRANJINGAN.COM

TETEP SEMANGAT & GEMBIRA

‘The Kid Who Would Be King’: Melawan Penyihir Jahat Bersama Teman-teman

Minggu, 27 Januari 2019 12:15 pm
The Kid Who Would Be King: Melawan Penyihir Jahat Bersama Teman-teman
Foto: The Kid who Would be King (imdb.)

Alex Elliot (Louis Ashbourne Serkis) adalah seorang bocah yang sangat baik. Sebagai seorang anak, dia cukup penurut. Dan hobinya menolong temannya, Bedders (Dean Chaumoo), yang sering dibully membuatnya menjadi bahan bulan-bulanan kakak kelas di sekolahnya. 

Kemudian suatu hari Alex melihat sebuah pedang dan berhasil mencabutnya. Legenda mengatakan bahwa pada jaman dahulu kala, Merlin (Angus Imrie sebagai Merlin remaja dan Patric Stewart sebagai Merlin dewasa), menaruh pedang tersebut bagi keturunan raja.

King Arthur adalah salah satu orang yang bisa mencabutnya. Dan ia menggunakan pedang tersebut untuk memimpin bangsa menjadi bangsa yang damai dan beradab.

Morgana (Rebecca Ferguson), penyihir dan juga saudara tiri King Arthur berjanji bahwa suatu hari nanti, ketika manusia sudah tidak lagi beradab dan dunia tidak lagi bersahabat, dia akan kembali ke Bumi dan mengambil pedang tersebut. Dunia akan gelap dan Morgana akan menguasai dunia.

Ketika Alex akhirnya bertemu dengan Merlin, dia mengira ini hanya sebuah lelucon. Sampai akhirnya satu per satu monster muncul dan ia harus mulai mengumpulkan pasukan untuk melawan Morgana yang akan segera datang.

Delapan tahun kemudian Joe Cornish merilis film lagi setelah debutnya melalui Attack The Block. Ini adalah sebuah anomali yang patut dicatat mengingat Attack The Block adalah salah satu film tentang alien invasion paling menghibur yang pernah dibuat.

Attack The Block tidak hanya menegangkan tapi juga sangat menghibur, sangat lucu dan keberanian Joe Cornish mengajak aktor-aktor muda Inggris adalah fakta bahwa dia adalah seorang filmmaker yang cukup revolusioner. Dan ia melakukan ini di debut penyutradaraannya.

The King Who Would Be King sangat berbeda dengan Attack The Block meskipun Anda masih bisa melihat bagaimana skill Joe Cornish sebagai penulis dan sutradara masih tetap cemerlang. Jika Attack The Block liar dan serampangan sesuai dengan para alien yang menyerang tokoh-tokoh protagonisnya, film ini justru hangat dan manis.

Seperti tokoh-tokoh utamanya yang menggemaskan, The Kid Who Would Be King penuh dengan harapan. Film ini tidak berusaha untuk menjadi lebih dari sekedar tontonan yang menghibur. Dan kadang kala, hal tersebutlah yang justru menjadikan film ini menjadi terasa sangat tulus.

Film ini mungkin tidak menawarkan terobosan baru dalam bercerita. Plotnya agak bisa ditebak. Joe Cornish agak terengah-engah ketika film memasuki babak kedua. Tapi itu pun tidak membuat The Kid Who Would Be King menjadi loyo. Film ini tetap bertenaga dan akhirnya ditutup dengan klimaks yang cukup memuaskan.

Dibuka dengan animasi yang oke, The Kid Who Would Be King memberikan nuansa nostalgia yang membuat Anda teringat dengan film-film keluarga yang feelnya sangat menghangatkan. Dengan situasi dunia yang rusuh seperti yang terjadi sekarang, kehangatan ini membuat sensasi menonton The Kid Who Would Be King jadi terasa intim.

Ini semua dibantu dengan penampilan aktor-aktor cilik yang luar biasa berbakat. Terutama si Louis Serkis yang merupakan anak dari aktor terkenal Andy Serkis.

Meskipun karakter-karakter dalam The Kid Who Would Be King tidak se-memorable karakter-karakter di Attack The Block dan CGI film ini terasa terlalu generik, film ini tidak bisa dipungkiri adalah sebuah tontonan keluarga yang menghibur.

Joe Cornish seolah mengingatkan kepada kita semua bahwa anak-anak memang penentu masa depan kita semua. Dan semoga saja dengan menonton film ini, generasi penerus akan terinspirasi untuk melakukan kebaikan.

Sumber:

https://hot.detik.com/premiere/d-4402272/the-kid-who-would-be-king-melawan-penyihir-jahat-bersama-teman-teman
%d blogger menyukai ini: